"Saya nggak takut. Niat saya baik karena pemerintah sudah percayakan".
Sumber pendapatan PLN itu disumbang oleh penjualan listrik senilai Rp133,3 triliun. Angka ini naik 20,6 persen. Sementara itu, dari subsidi, jumlah subsidi yang diberikan pemerintah ke PLN naik sebesar Rp10,8 triliun menjadi Rp83,1 triliun. Selanjutnya, penyambungan pelanggan baru menyumbang sebesar Rp1,37 triliun, dan sektor lainnya Rp901,1 miliar.
Agaknya, Sofyan sudah tak takut lagi tersetrum listrik PLN. Meski, konon, gajinya lebih kecil, Sofyan ingin mengambil tantangan yang diterimanya ini. "Maka, saya upayakan maksimal. Khawatir selalu ada, tapi mari kita buktikan dengan perbuatan," ujarnya. Mari, kita doakan saja.
- Direktur Utama: Sofyan Basir
B.Komisaris
VIVAnews - "Wah, kesetrum saya kalau jadi dirut PLN," ujar Sofyan Basir saat ditemui di Kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sofyan melontarkan pernyataan itu sehari sebelum ia ditahbiskan sebagai direktur utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Bahkan saat itu, Sofyan sempat menyatakan kalau dia tidak mungkin menjadi komandan di perusahaan negara sektor energi tersebut. Dia beralasan, latar belakangnya sebagai bankir, tidak cocok untuk memimpin perusahaan energi listrik pelat merah itu.
"Nggak mungkin bankir jadi dirut PLN," kata Sofyan yang saat itu masih menjadi Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk itu.
Kedatangan Sofyan ke kantor Kementerian BUMN, hari itu, mengejutkan. Tak mungkin bila "hanya" persoalan BRI, membuatnya tergopoh-gopoh menghadap Menteri BUMN, Rini Soemarno. Apalagi, kinerja BRI tergolong bagus.
Rupanya, Sofyan tengah "dilobi" oleh menteri BUMN. Rini Soemarno meyakinkan Sofyan untuk menakhodai PLN. Sofyan, di mata Menteri Rini, punya kapabilitas untuk mengelola dan memperbaiki PLN.
Pengalaman Sofyan selama belasan tahun mengomandani bank, dianggap Rini cocok untuk memantik semangat PLN. Sebab, persoalan serius di tubuh PLN adalah permasalahan manajemen. Faktor ini yang barangkali membuat Sofyan menerima pinangan Menteri Rini.
"Bu Menteri menyampaikan, persoalan utama adalah soal manajemen. Ini mungkin, kami harus berperan aktif dan lebih dalam, membangun komunikasi yang sangat baik dan hubungan kolega serta team work yang baik. Pengalaman-pengalaman kami di Bukopin dan BRI bisa dibawa ke PLN," ujar Sofyan selepas pengumuman resmi penunjukannya sebagai dirut PLN, Selasa 23 Desember 2014.
Sofyan memang dikenal sebagai orang di balik kesuksesan BRI. Pria kelahiran 2 Mei 1958 ini, dua kali menjabat sebagai dirut BRI. Periode pertama, dia menjabat dirut sejak 17 Mei 2005, kemudian pada 20 Mei 2010, ia terpilih kembali memimpin salah satu bank BUMN terbesar di Tanah Air itu.
Mantan dirut PT Bank Bukopin Tbk itu mampu membawa BRI berdiri sejajar dengan perbankan nasional lainnya. Dari bank pasar dan pedesaan, BRI berhasil bertransformasi menjadi bank modern yang bisa bersaing dengan bank umum lainnya.
"Beliau sudah mampu mengatur sumber daya manusia (SDM) di BRI yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan PLN, yaitu 125 ribu orang," kata Rini, seolah menekankan alasan penunjukan Sofyan.
Pemerintah menaruh harapan kepada Sofyan agar bisa membawa PLN serupa dengan bank pelat merah tersebut. "Bisa memberikan jasa kelistrikan ke semua rakyat Indonesia agar semuanya mendapat listrik dan tidak ada pemadaman listrik. Pak Sofyan merupakan orang yang tepat," kata Rini.
Setrum 35 ribu MW
Tantangan yang dibebankan pada pundak Sofyan tidaklah ringan. Dengan menjadi dirut PLN, dia wajib memikirkan salah satu misi pemerintah untuk menyelesaikan program pembangkit 35 ribu megawatt (MW). Program pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) ini ditarget rampung pada 2019.
Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jarman, menyebut penyelesaian program 35 ribu MW itu hanyalah salah satu tantangan yang bakal dihadapi Sofyan.
Tantangan lainnya, penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dikurangi dan menurun sesuai RUPTL (rencana umum penyediaan tenaga listrik) menjadi dua persen pada 2019. Jadi, pembangkit harus dialihkan ke pembangkit non-BBM.
Jarman menekankan agar pembangunan pembangkit listrik itu bisa diselesaikan tepat waktu. Kalau ini terlaksana, defisit listrik yang terjadi di daerah-daerah akan teratasi.
"Sekarang banyak terjadi defisit, karena kekurangan pembangkit dan transmisi. Diusahakan harus selesai tepat waktu," kata dia.
Kinerja keuangan
Untuk mengurai masalah elektrifikasi tersebut, tentu saja PLN membutuhkan anggaran yang tak sedikit. Padahal, beban utang PLN dinilai cukup besar.
Direktur Indonesia Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara, menganggap beban keuangan PLN bakal semakin berat menyusul pelemahan nilai tukar rupiah. Akibatnya, kata dia, kemampuan PLN untuk membangun menjadi berkurang.
Tetapi, bila melihat kinerja PLN, boleh dibilang tidak terlalu buruk. Bahkan, Sofyan mengakui prestasi yang ditorehkan dirut PLN sebelumnya.
"Pak Nur (Nur Pamudji) sudah menjalankan dengan baik, kami tinggal melanjutkan untuk lebih baik lagi dan itu menjadi sebuah kebanggaan bagi Pak Nur," ujar Sofyan.
Dilihat dari laporan keuangan, memang kinerja PLN cukup meyakinkan. Setidaknya, ini untuk periode Januari-September 2014. Pada periode ini, PLN mencatat kenaikan laba bersih 171,5 persen. Labanya menjadi Rp15,3 triliun setelah mencatatkan kerugian Rp21,4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan laba bersih itu dibarengi dengan peningkatan pendapatan menjadi sebesar Rp218,7 triliun, atau naik 18,4 persen, dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya Rp184,7 triliun.
Pemicu utama birunya kinerja keuangan PLN adalah kenaikan tarif dasar listrik sekira 15 persen untuk beberapa golongan. Ditambah lagi dengan peningkatan jumlah pelanggan.
Penerapan GCG
Namun, bagusnya kinerja tersebut, tidak serta merta bisa mengatasi persoalan utang perusahaan. Keuntungan sepanjang periode tersebut seolah tak begitu berarti bila menengok jumlah utang yang ditanggung perusahaan setrum itu.
"Utangnya ada Rp470 triliun," tutur Sofyan.
Sofyan merasa tak masalah dengan utang sebesar itu. Bagi dia, utang tidak jadi soal, asalkan dana itu bisa meningkatkan kinerja perusahaan.
Toh, Sofyan mengaku lebih mementingkan peningkatan pendapatan usaha daripada menekan utang. "Utang bukan dosa kalau hasilnya lebih baik. Jangan sampai saya bilang tidak boleh berutang, tapi listrik mati terus," ujar Sofyan.
Sofyan menegaskan, fasilitas kredit yang diterima BUMN listrik ini akan digunakan untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Salah satunya, meningkatkan elektrifikasi dan perbaikan infrastruktur.
"Bagaimana kami bisa memperbesar pendapatan serta efisiensi biaya (kalau tidak berutang)," kata dia.
Menurut hitungan bisnis, utang memang diperlukan mana kala perusahaan perlu dana segar untuk mendongkrak pertumbuhan. Sepanjang tidak ada keputusan bisnis yang ngawur, tentu saja utang itu bermanfaat bagi perusahaan.
Prinsip ini yang agaknya ingin diusung oleh Sofyan. Dia bakal menjalankan prinsip Good Corporate Governance (GCG). "Kami jaga GCG pasti itu, ada tim khusus, nanti kami buktikan," katanya.
Sayangnya, Sofyan belum mau membeberkan rencana bisnis PLN di bawah kepemimpinannya. Dia mengaku masih harus memetakan permasalahan yang ada di tubuh PLN. "Kami sedang petakan benang merah. Dalam satu-dua bulan ini kami konsolidasi, mana yang jadi benang merahnya," kata dia.
Sofyan mengaku pemetaan masalah itu bakal cepat rampung. Sebab, terdapat orang lama di dalam tim direksi PLN baru ini.
Memang, Sofyan tak menampik soal rumitnya persoalan PLN. Selain, permasalahan manajemen, tak sedikit PLN yang terlibat kasus hukum. Tak jarang, tataran kebijakan bisnis membuat pengambil keputusan harus tersangkut kasus pidana.
"Saya nggak takut. Niatku baik. Pemerintah mempercayakan kepada saya dan tim," kata dia.
Berikut ini adalah jajaran direksi dan komisaris baru PLN:
A. Direksi
- Direktur: Sarwono Sudarto
- Direktur: Nicke Widyawati
- Direktur: Murtaqi Syamsuddin
- Direktur: Supangkat Iwan Santoso
- Direktur: Amin Subekti
- Direktur: Nasri Sebayang
- Direktur: Amir Rosidin
- Komisaris Utama: Chandra M. Hamzah
- Komisaris: Budiman
- Komisaris: Hasan Bisri
(art)
Sumber : viva.co.id







0 comments:
Post a Comment